Bahasa Sumber #

Menguasai bahasa yang digunakan oleh buku rujukan merupakan poin awal untuk dapat melangkah lebih lebar dan cepat.

Jika kamu sedang mempelajari ilmu komputer, menguasai bahasa inggris dapat membuat segalanya berbeda. Begitupun jika kamu menguasai bahasa arab ketika mempelajari agama islam. Poin ini penting, kamu harus bisa menguasainya.

Nantinya, kamu akan memiliki langkah yang berbeda dan pandangan yang lebih jauh. Kata pencari yang kamu gunakan bukanlah bahasa lokal sehingga membuat tugas, skripsi, dan jurnalmu akan memiliki referensi-referensi internasional. Kamu juga tidak akan kesulitan berkomunikasi dengan komunitas maupun para ahli.

Membatasi rujukan hanya dengan bahasa lokal -- terlebih di negara yang belum maju -- membuat kualitas yang dihasilkan tidak sebaik tugas yang menggunakan rujukan berkualitas internasional [1].

Kelas #

Gunakan kelas hanya untuk diskusi. Bacalah materi sebelum kelas dimulai. Siapkan semua pertanyaan-pertanyaan yang belum kamu temukan.

Dapatkan atmosfer terbaik di kelas. Gunakan baju terbaik, datanglah lebih awal, dan duduklah di kursi terdepan. Kamu tidak akan mudah hilang fokus, dekat untuk bertanya, dan mendapatkan teman-teman yang rajin.

Cara belajar setiap orang yang berbeda. Jika kamu merasa tidak mengingat apapun setelah keluar kelas, gunakanlah catatan. Beberapa dosen menyarankan untuk merekam dengan perekam suara dan mengulanginya di luar kelas. Bagi saya ini tidak sangkil (efisien). Saya lebih suka membuka buku tulis di kelas, dan mencatat kata-kata kunci yang saya dapatkan. Foto catatan di papan tulis jika gurumu rajin menulis.

Dalam menulis, saya terbiasa untuk melakukannya secara interaktif. Contohnya sebagai berikut:

Kata-kata penting atau penjelasan dosen.

💡 ide yang timbul.
// komentar terhadap argumen/penjelasan dosen.
?? pertanyaan terhadap argumen/penjelasan dosen.

Saya mengunakan // di awal kalimat untuk menandai komentar pribadi, membedakan informasi dari buku/salindia (slide) dosen. Jika penjelasanya padat, saya menambahkan a// (aku) untuk komentar pribadi, dan d// (dosen) untuk komentar dosen terhadap materi yang disampaikan. Dengan ini saya dapat membedakan dengan mudah materi asli dengan komentar. Cara yang sama saya terapkan pada simbol ??. d?? umumnya adalah soal/tugas yang diberikan dosen.

Kebiasaan ini juga saya lakukan hingga sekarang. Selain mudah membedakan, teknik ini membuat saya bisa menjadi pribadi yang skeptis. Tanyakan materi dasar yang menjadi pondasi suatu keilmuan. Tanda // dan ?? akan sangat membatu. Jika kamu memiliki tanda tersebut pada setiap argumentasi dan pertanyaan dosen, kamu dapat menanyakan dan mendiskusikannya satu-per-satu di akhir kelas atau di luar kelas jika tidak memungkinkan.

Teguran: Jangan pernah bertanya persoalan yang mudah kamu temukan di internet. Cari sebelum bertanya sehingga pertanyaanmu menjadi berbobot. Arahkan pada pertanyaan teoritis atau implementatif yang dalam.

Skeptis membuatmu menguasai suatu dasar dengan baik. Ada beberapa guru yang menjelaskan materi hanya dengan ilmu yang ia dapat dari guru lainnya. Ini membuat informasi yang disampaikan lemah dan terdistorsi. Keadaan ini diperparah dengan murid yang mempercayai semua yang dijelaskan tanpa pernah ragu.

Sifat meremehkan kadang kala timbul jika kualitas belajar-mengajar buruk. Dilahirkan oleh guru yang sering telat, tidak membaca buku, dan tidak mengajar secara total. Hindari meremehkan pelajaran. Tindakan ini dikhawatirkan akan membuat semangat belajarmu menurun. Boleh saja mengkritisi, dengan syarat kamu mendapat nilai yang baik. Akan sangat lucu jika kamu mengkritisi, tetapi nilaimu saja C+. Tidak akan ada yang mendengarkanmu.

Saya selalu mengirimkan surat tanda terimakasih pada guru-guru yang memiliki performa yang bagus. Surat-surat itu dikirimkan pada semester selanjutnya setelah semua nilai keluar. Tujuannya agar surat itu murni untuk berterima kasih, bukan untuk meminta tambahan nilai [2].

Belajar #

Hiduplah dengan kualitas hidup terbaik. Jika kamu mengenyam pendidikan di sekolah dengan rangking ratusan. Lihatlah silabus yang diajarkan pada sekolah yang memiliki rangking #1. Hidup dan belajarlah layaknya kamu bersekolah di sana.

Selain membaca sumber kedua (salindia), cari dan pelajari buku-buku utama. Jika tidak memungkinkan, bacalah bagian-bagian yang menarik perhatianmu. Jadikan sumber utama rujukan bagi persoalanmu. Bertanya kepada guru dengan sumber kedua hanya membuatmu mendapat jawaban yang benar menurut dirinya sendiri.

Layaknya menulis catatan, gunakanlah highligter dan notes tatkala kamu membaca buku digital. Berilah tanda pada bagian yang dirasa penting. Tulis argumentasimu pada bagian itu, dan perdalam hal yang membuatmu ragu.

Kreasi #

Praktikan ilmu yang telah kamu pelajari. Bangun sebuah karya, baik berupa alat, aplikasi, ataupun tulisan.

Karya tersebut dapat mengajarimu apa yang tidak dapat kamu pelajari di kelas. Selain itu, karyamu akan dikenal oleh komunitas. Ini sangat membantumu terjun di dunia nyata: mendapatkan tempat magang atau tempat kerja yang bagus, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Hasil yang sama juga bisa kamu dapatkan dengan mengikuti lomba. Membangun karya dan mengikuti lomba memaksamu mempelajari ilmu lebih dalam, dan selalu membuatmu dalam tantangan. Dengan menguasai ilmu lebih dalam. Kamu mudah mengaitkan banyak hal. Connecting the dots.

Kamu menjadi pintar bukan karena mengetahui banyak hal. Siapapun dapat mengajar topik apapun. Tetapi tak banyak yang dapat menarik garis antar satu topik dan topik lainnya. Kamu akan menjadi pribadi yang luar biasa jika dapat menghubungkan titik-titik itu.

Komunitas #

Kenali orang-orang yang berkontribusi pada bidangmu. Baca biografi singkatnya di wikipedia, Ikuti twitter-nya, dan pelajari kiriman (post) yang ia tulis pada blog-nya.

Ini membuatmu mengetahui nama-nama penulis buku, riset termutakhir, workflow dan alat yang mereka gunakan, dan bagaimana mereka berpikir.

Pada beberapa kesempatan, dosen saya bertanya kasus-kasus diluar kelas. Beberapa kali saya menjawabnya dengan baik. Kemungkinan dosen tersebut mengira bahwa saya pintar. Padahal, itu dapat saya lakukan karena saya mengetahui alat-alat yang digunakan, dibicarakan, atau dibenci para ahli. Hasil dari membaca blog-blog mereka [3].

Pondasi #

Poin-poin di atas hanyalah perias. Tanpa pondasi yang kokoh, semua sulit tercapai.

Awali dengan niat yang baik. Rugi jika kita menghabiskan materi dan waktu untuk hal yang setengah-setengah. Jadilah gamer terbaik atau siswa berpertasi. Jika dapat melakukan keduanya, maka luar biasa. Hindari menjadi gamer -- atau bidang lainnya -- terbaik, tetapi tidur di kelas, sering bolos dan nilai amburadul. Pilih salah satunya. Seringkali orang hanya mengingat yang pertama. Neil Amstrong, tanpa pernah ingat yang kedua. Jangan bersekolah hanya karena orang lain melakukannya. Jika setengah-setengah, lebih baik jangan. Sekolah bukan jaminan.

Miliki disiplin dan kebiasan yang baik. Hindari segala hal yang membuatmu terdistraksi. Jangan membuang waktu. Bergaullah dengan teman-teman yang membuat cita-citamu semakin dekat.

Catatan #

[1] Ketika mengerjakan segala tugas kuliah, saya selalu mencari setiap kata kunci dengan bahasa inggris. Ini membuat saya mendapatkan banyak pengetahuan baru, konten tugas yang dalam, dan siap berdiskusi. Salah seorang teman menghubungi saya dan mengabari bahwa hingga saat ini (saat tulisan ini dibuat) skripsi saya masih digunakan sebagai contoh karena salah satu alasan di atas.

[2] Surat ini dikirimkan kepada guru-guru yang memiliki kinerja yang luar biasa (outstanding performance). Diantaranya: terbuka untuk berdiskusi, berani mengatakan "saya tidak tau", dan berargumentasi dengan sitasi.

[3] Dosen bertanya: "Jika ada seseorang, sebut saja Alice. Mengirim (post) foto-foto Bob di linimasa (timeline), bertidak persis seperti Bob secara terus menerus. Lalu suatu saat ia menghubungimu di internet. Bagaimana caramu meyakini bahwa itu adalah Bob yang asli?". Saya berusaha memecah keheningan dengan mengangkat tangan seraya berkata "PGP". Saya dapat menjawabnya karena beberapa kali membaca blog Richard M. Stallman.