Peluklah Ketakutan #

Ketakutan lahir dari ketidakmampuan. Hati saya merasa berdebar tatkala memasuki kelas matematika. Akan tetapi, saya berangkat lebih awal, duduk paling depan, dan berharap ditunjuk guru untuk maju pada kelas-kelas tanpa hitungan.

Jika terus mengikuti pola ini. Kita akan semakin hebat pada keterampilan lama, tetapi hancur pada keterampilan yang ditakuti.

Sebagian keterampilan adalah hutang. Beberapa diantaranya wajib diketahui. Meskipun pada tahap yang sangat dasar. Jika tidak, kita akan selalu berdebar dan berkeringat pada banyak kesempatan. Tidak ada kelas tanpa matematika, mulai TK hingga kuliah. Bahkan bentuk dasarnya akan tetap dibutuhkan setelah itu. Lari darinya hanya akan membuat kita ditagih pada masa-masa yang akan datang. Kasus serupa akan terjadi pada muslim. Dengan tidak menguasai ilmu-ilmu dasar agama, kita tidak akan berani duduk di depan pada acara-acara keagamaan. Tidak berhenti disitu, hutang-hutang itu akan terus ditagih dalam banyak acara seumur hidup. Seperti kelahiran, pernikahan, kematian, bahkan kegiatan sehari-hari.

Ketakutan adalah sinyal bahwa kita terlambat dalam permainan. Para murid tidak akan merasa takut pada hari pertama ia masuk kelas matematika. Tetapi, kucuran keringat akan terjadi pada akhir semester. Di mana selama ini ia selalu membenarkan ketakutannya.

Ketakutan juga lahir karena tidak adanya pengetahuan tentang bagaimana cara belajar (learning how to learn). Orang yang telah biasa mempelajari keterampilan baru, sadar bahwa ketakutan dapat dijinakkan dan keterampilan dapat dikuasai. Selain itu, ketakutan terbesar umumnya hanya terjadi saat ronde pertama. Pada saat seseorang belum mengetahui bagaimana jika nantinya ia menemui kesulitan, dan di mana ia harus bertanya. Hadapi, lawan ketakutan itu. Tarik nafas dan mulai. Bite the bullet. Ronde selanjutnya hanya seperti hari-hari biasa.

Melalui goodreads.com

“Do one thing every day that scares you.”
– Eleanor Roosevelt

Ronde Pertama #

Mulailah dengan bentuk yang paling sederhana. Pahami konsep dasarnya. Pelajari setiap simbol yang tidak dimengerti. Lalu berpindah sedikit demi sedikit. Jangan mengerjakan soal acak. Carilah sumber pembelajaran yang menyediakan soal dan langkah-langkah penyelesaian yang mudah dicerna.

Jika kamu sudah menguasai “keterampilan menguasai keterampilan” (learning how to learn). Maka boleh-boleh saja menggunakan kursus daring atau belajar dari buku atau video secara mandiri. Jika ini kali pertamamu, carilah teman yang telah mahir untuk kamu jadikan mentor. Tentu kamu dapat membayar guru privat untuk hal ini. Pastikan kamu mendapatkan mentor yang memahami karaktermu, dan kamu merasa nyaman dengannya. Mentor dapat membuatmu merasa memiliki banyak pegangan. Layaknya orang baru belajar berenang, ia akan mencari banyak pegangan. Hal ini membuat rasa takutmu semakin kecil.

Di masa perkuliahan, saya memilih teman untuk mengajari saya matematika. Saya membalasnya dengan mengajari keterampilan yang saya miliki. Tentu saya lebih menyarankan untuk memiliki mentor khusus. Hal ini mempercepat waktumu untuk menguasai keterampilan tersebut.


Kunci yang terpenting adalah kamu harus menguasai bagaimana cara belajar. Bagaimana suasana, postur belajar, dan bentuk penjelasan yang cocok untuk mu.

Ada masa di mana kamu tidak dapat menangkap solusi sebuah soal, baik dari buku maupun mentor. Jangan berkecil hati. Berbanggalah karena kamu memiliki cara yang unik untuk memahami sesuatu. Hal ini nantinya dapat kamu manfaatkan untuk mengajari orang lain yang mengalami kesulitan yang sama.

Memahami konsep dasar bukan berarti kamu menguasai sedalam mungkin semua yang kamu lihat. Ada kasus di mana kamu membutuhkan waktu dan pengalaman lain untuk memahami hal-hal itu. Pada saat ini, ada kalanya kamu harus menerima sebagaimana adanya.

Ketika Teori Tidak Cukup #

Beberapa keterampilan memang tidak membutuhkan praktik. Kamu dapat menguasainya hanya dengan membaca maupun mendengarkan. Tetapi kamu tidak dapat menguasai matematika, pemrograman, dan bola basket hanya dengan membaca teori. Kamu butuh mengerjakan banyak soal, membangun aplikasi, atau berlatih di lapangan.

Kamu harus melakukan keduanya, memahami teori dan mempraktikkan. Memahami teori tanpa praktik membuatmu mudah lupa, dan kesulitan mengerjakan soal-soal. Melakukan praktik tanpa teori membatasi jarak pandangmu sehingga hanya dapat menyelesaikan masalah dengan jalan yang sudah kamu ketahui sebelumnya. Dengan banyak praktik tanpa membaca teori, akan banyak waktu yang habis untuk mencoba-coba. Bahkan melakukan langkah-langkah yang seharusnya tidak dilakukan. Lakukan teori-praktik-teori-praktik, hindari teori-teori-teori-praktik.

“If all you have is a hammer, everything looks like a nail”
– Abraham Maslow

Just Do It! #

Sebuah cerita bagaimana saya menguasai Emacs. Pengolah kata yang dioperasikan tanpa menggunakan tetikus(mouse). Semua operasi dijalankan menggunakan kombinasi tombol papan ketik. Layaknya menggunakan Ctrl-c untuk menjalankan perintah salin.

Ketika saya ingin mempelajari matematika. Saking takutnya, banyak hal yang saya lakukan. Semua hal itu hanyalah pembuka, belum sampai ke inti belajar dan terus tidak akan pernah sampai. Melakukan hal-hal pembuka itu selalu diamini sebagai pembenaran.

Saya mencari ahli-ahli matematika, meminta nasehat, meminta doa, mengunduh dan mencetak buku, mengikuti twitter-nya, hingga menempel poster-poster matematikawan. Hal ini saya lakukan terus menerus. Hasilnya? tentu dalam 1-2 bulan saya tetap tidak bisa matematika.

Di waktu yang bersamaan, saya mempelajari Emacs. Saya tidak memberi tahu seorang pun, tidak meminta doa kepada siapapun, dan tidak mencetak maupun menempel apapun. Tetapi hanya dalam waktu 3-4 minggu, saya sudah bisa mengoperasikannya dengan baik. Puluhan perintah, tanpa menggunakan tetikus sama sekali. Bagaimana bisa saya melakukan hal yang bahkan saya sendiri tidak percaya hal serumit itu dapat dikuasai?

Semua kembali pada keberanian memulai, dan menghabiskan banyak waktu bersamanya. Pola belajar matematika saat itu adalah: meminta nasehat, membuka laptop, dan duduk belajar. Beberapa detik kemudian, ketakutan muncul karena tidak bisa mengerjakan soal dan tidak memiliki keyakinan bahwa saya bisa menyelesaikannya. Selanjutnya yang terjadi adalah kembali mengerjakan hal-hal lain dan meninggalkan soal-soal itu. Pola ini terjadi sehari-hari.

Pada kasus Emacs, di kelas saya terbesit memikirkan mengapa fungsi yang pagi tadi saya temukan tidak bekerja. Di jalan saya terbesit bagaimana melakukan X sehingga saya ingin cepat pulang dan menyelesaikannya. Berbeda dengan matematika, kali ini tidak ada yang bisa saya tanya, tidak ada satupun dikelas yang tau apa itu Emacs, tetapi saya bekerja lebih (going extra miles). Saya terus ulik sebuah fungsi hingga berhasil mencapai titik yang dikehendaki. Putaran jarum jam dan kosongnya perut tidak pernah terasa, saya hanya beristirahat tatkala ingin buang air kecil. Hal ini terjadi karena keinginan yang kuat serta kepuasan dan rasa percaya diri tatkala bisa menguasainya.

It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer
– Albert Einstein


Pola tersebut saya sadari beberapa bulan kemudian. Saya lakukan hal yang sama pada pelajaran matematika dan pemrograman. Pelajari manfaat dan tujuan (tanyakan why?). Lawan ketakutan dan hindari distraksi. Tanamkan antusiasme, dan bersikaplah skeptis. Mulai dari yang paling mudah, ketahui kemana akan mencari jawaban, lalu duduk dan mulailah belajar.

Learning is not fun. Acquiring skill is discomfort.

Membeli banyak buku, tetapi tidak dibaca. Meminta banyak nasihat, tetapi tidak belajar. Datang ke banyak konferensi, tetapi tidak memulai adalah cara-cara sukses membuatmu gagal.

Kebiasaan #

Menanamkan rasa intrinsik pada beberapa keterampilan tidaklah instan, dibutuhkan kebiasaan dan disiplin. Kita dapat dengan mudah memprediksi hasil dua orang dengan keinginan yang sama hanya dengan melihat kebiasaanya. Impian tidak dapat membuatmu selalu berlatih setiap hari, tetapi kebiasaan dapat membuatnya[1]. Tanpa disiplin, kamu akan mudah putus asa dan berhenti. Duduk sebentar, lalu berhenti. Dilanda rasa takut dan khawatir. Disiplin dan kebiasaan dapat membuatmu tetap duduk, tetap mencoba, dan tetap berlatih esok hari.

Setelah kebiasaan itu terbangun, kamu hanya tinggal menunggu waktu. Seberapa cepat kamu dapat menguasai keterampilan bergantung pada bagaimana (how) kamu berlatih. Berlatih tanpa memahami konsep dasar hanya akan menjadikanmu salah satu anggota cargo cult.

The Iceberg Illusion oleh Sylvia Duckworth

Orang-orang hebat disekitarmu juga mengalami hal yang sama di hari-hari awal mereka memulai. Hanya saja mereka sudah memulainya terlebih dahulu. Sama halnya denganmu yang juga memiliki keterampilan yang tidak mereka miliki. Apa yang kita lihat dari pencapaian seseorang hanyalah puncak dari hasil yang telah ia lakukan sebelumnya (the tip of iceberg). Seringkali kita takjub berlebihan tanpa menyadari semua ketidaknyamanan yang telah ia lalui.

Sekarang kita tidak lagi menurunkan rahang tatkala melihat orang yang cemerlang pada suatu keterampilan. Semua bisa dipelajari.

Jika memang 10.000 jam adalah angka pasti untuk menjadi cemerlang pada suatu keterampilan[2]. Ingat, pada saat ini tujuan kita tidak untuk menjadi juara dunia bukan?. Yang terpenting adalah bagaimana kamu berlatih. Lakukan deliberate practice, deep work (jauhi distraksi), dan nikmati proesesnya (familiar discomfort is comfort[3]). Jangan mengharapkan perubahan instan. Hal kecil beberapa menit yang dilakukan terus menerus secara konsisten setiap hari akan menghasilkan perubahan besar[4]. Perubahan tidak akan terlihat di awal, tetapi jika dilakukan terus-menerus, kamu akan berada di tempat yang jauh berbeda.

Fase keterampilan. Terinspirasi oleh "Valley of Disappointment"

Dalam perjalanannya, fase menguasai skill adalah layaknya fase terbit-tenggelamnya bulan. Ada masa terang di mana kamu merasakan begitu mudahnya suatu tahap dikuasi. Tetapi, ada juga masa gelap seakan kamu ingin keluar dan berhenti. Pada masa itu, sadari bahwa kamu sedang berjalan naik menyelesaikannya. Tahap sulit akan berlalu, dan tahap mudah akan datang kembali. Begitu seterusnya.

Awali setiap permulaan dengan berserah diri. Berdoa agar dimudahkan dan diberikan pemahaman. Akhiri dengan doa agar selalu diberikan kuat ingatan. Pada titik-titik kesulitan, angkatlah kedua tangan dan berdoa. Jika belum berhasil, lakukanlah shalat dua rakaat. Ibnu Sina selalu melakukan hal ini tatkala dibenturkan dengan kesulitan.

Manusia adalah manusia #

Proses membutuhkan waktu. Selain distraksi dari benda-benda sekitar seperti youtube, game, maupun televisi, kamu akan mendapatkan distraksi dari manusia-manusia lain.

Hindari mengumumkan tujuanmu pada banyak orang. Kamu akan merasa tujuanmu telah tercapai, padahal kamu belum memulainya. Mereka juga dapat meremehkanmu sehingga kamu kehilangan motivasi. Hindari juga bertanya sebelum berusaha. Kamu akan dianggap benalu dan tidak dihormati.


وَإِنْ أَرَدْتَ نَجَـاحًا أَوْ بُلُوْغَ مُنًى . فَاكْتُمْ أُمُوْرَكَ عَنْ حَـافٍ وَمُنْتَعِلِ

Jika kamu menginginkan suatu kebehasilan atau pencapaian impian. Maka sembunyikanlah dari orang yang tidak beralas kaki atau beralas kaki (semua orang).
– (٧٦٤ هـ) صَلَاحُ الدِيْنِ الصَفَدي

Sudah menjadi fitrah manusia untuk meremehkan seseorang yang lemah, tetapi akan berlagak akrab ketika nantinya ia berhasil. Lepaskan dirimu dari rasa-rasa dan nafsu-nafsu manusiawi seperti ini.


Selamat menguasai keterampilan baru!


Artikel menjawab pertanyaan-pertanyaan "bagaimana kamu dapat melakukannya?". Artikel ini juga dapat berjudul "Bagaimana mungkin anak pondok bisa bagus matematika?".

Footnotes

  1. Atomic Habits summary oleh Med School Insiders ↩︎

  2. Outliers: The Story of Success by Malcolm Gladwell ↩︎

  3. Why Do Bad Habits Feel SO GOOD? oleh After Skool ↩︎

  4. How to Achieve Your Most Ambitious Goals oleh Stephen Duneier ↩︎