Manusia seringkali memaksakan kehendak. Meraih dahan tinggi tanpa pijakan. Melihat manusia lain sebagai malaikat penyedia pijakan. Tanpa pernah sadar bahwa manusia tetaplah manusia, baik diri kita maupun orang lain.

Keputusan hidup memang tidak memiliki rumus pasti. Tetapi dengan menerima bantuan jasa. Maka di waktu yang sama, kita membuka ruang untuk membalas budi berbatas langit, independen yang semu, dan cuitan sekitar tanpa henti.

Mungkin dulu keadaan berbeda. Saling titip saling percaya. Saling butuh saling hormat. Hari ini, hal-hal itu lebih baik dihindari.

Jika kita tidak mampu, buatlah akad yang jelas. Meminjam bukan meminta. Menangislah lirih di hadapan Allah, bukan di depan manusia.

Manusia baik, memang akan membantu. Tetapi tak ada bantuan diterima tanpa rasa ingin membalas. Bantuan tanpa akad dan hitungan yang jelas hanya akan menelan segala balasan tanpa batas.

Fitrah sulit dihindari. Sulit membenci kehormatan, pujian dan popularitas. Balasan datang dibanggakan. Meminta bantuan tanpa akad yang jelas. Berlandaskan jasa yang dianggap mulia.

Adopsi menyiksa secara implisit. Anak manis tercerca perintah, menahan keinginan, lapar, dan malu. Menutup telinga dari gosip. Hanya sajadah lusuh temannya berbisik. Anak kandung menatap tv, bercanda tawa, tidur pulas dan mengunyah lauk berbeda. Marjinalisasi tak dapat dihindari.

Wajah merengut, nada berubah ketika tak dibantu. Anak manis, si pembantu tanpa label.

Membatasi puji. Khawatir anak kandung tersakiti. Membentak alasan mendidik, tetapi dilakukannya selektif. Oh, politik merajalela.

Bagaimana mungkin klaim anak orang akan diperlakukan sama. Jika antar anak sendiri saja berbeda.

Anak manis mengira hujan akan reda. Tak sadar bahwa setiap insan desa mengetahui bahwa ia harus berbalas budi. Kebahagiaan kecilnya terenggut, kebebasan dewasanya terkekang. Kesiapan dan keberadaannya adalah suatu keharusan. Siang-malam, hujan-terik, bukan alasan.

Kebahagiaan tergadai dengan kesuksesan tanpa barometer.

Anak manis berdoa, cukuplah ia yang merasakan. Tak sadar bahwa orang tuanya juga berlomba membalas. Mengorbankan banyak hal. Tanpa pernah sampai ke podium kesetaraan. Bekerja tanpa upah, hilang tenaga berdalih membantu, hilang wibawa ditelan omongan orang.

Masyarakat melihat jasa yang diberikan penuh tanpa batas. Menjadikannya alasan untuk selalu mengingatkan anak manis untuk membalas.

Duhai alangkah baiknya jika jasa tak bersuara, tangan kiri tak mendengar. Anak manis bebas berdikari, kebebasannya tidak direnggut oleh taat berlandaskan balas budi.

Sunyi tak membuat masyarakat menoleh. Kenikmatan bagi orang baik. Ramai membuatnya dikerumuni topeng-topeng gaduh bercanda-tawa, hati yang mengejar gemerincing koin.

Pemilik koin tak akan pernah salah, pemujanya semakin bertambah.

Orang berkumpul membanggakan, nafsu memuncak, anak manis jadi dagangan. Cerita sakti akan kedermawanan. Cinta semu demi mengisi kekosongan.


Marilah hidup berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Balaslah bantuan. Jangan hanya menadah menerima. Bukahkah Rasullah membalas hidangan makan siang dari Abu Ayyub?

Bantuan besar tak akan pernah terbalas oleh beberapa orang. Hindari siapapun mengetahui bantuanmu. Biarlah si penerima hidup tenang. Tanpa tertekan untuk mengabdikan diri.

Fitrah manusia. Merasa berkuasa. Kita cenderung berbeda memperlakukan orang yang sering kita bantu. Tentu kita akan menggampangkan diri ketika meminta bantuannya. Buruknya, kadang kala ini juga terjadi dengan anak kita. Menganggap bahwa orang tuanya sudah memiliki jasa padanya.

Berdikarilah. Jadikanlah dirimu dermawan tanpa harus menawan.