Jika kita membeli nasi di warung dengan lauk ayam. Tentu kita mengetahui standar harga lauk ayam di pasaran, karena sebelumnya kita pernah makan di warung-warung lain. Kita pun dapat menunjukkan jika ada ayam tersebut telah berlendir, masih berdarah (kurang masak), dan lain sebagainya. Teman yang sedang asyik makan di samping pun dapat memberikan komentarnya, lalu bersama-sama bertanya pada ibu si pemilik warung.

Keadaan yang sama pada tempat berbeda seperti instansi atau universitas tidak dapat di tangani seperti di atas. Seringkali kita mendapatkan universitas yang mengklaim dirinya memiliki standar rasa ayam sehingga kita harus membayar mahal biaya SPP/UKT, tetapi setelah dicicipi rasanya bukanlah rasa ayam. Kualitas tersebut tidak berbentuk, dan tidak tertulis sehingga kita tidak dapat melakukan direct action seperti kita bertanya pada si embok pemilik warung.

Universitas/instansi ini biasanya memiliki tagihan SPP yang cukup mahal, tetapi ouput yang siswa rasakan tidak sesuai dengan bayaran tersebut. Hal ini berbeda ketika sebuah instansi memang berharga murah dengan output yang dirasakan seadanya karena memang sesuai dengan harga yang kita bayar.

Hal yang perlu teman-teman maupun para orang tua ingat adalah kualitas/prestige nama sebuah universitas tidak mencerminkan kualitas sebuah fakultas/jurusan yang berada di dalamnya. Ilustrasinya seperti ini, misalkan kita tau bahwa sate kambing di food court Melati Indah lezat dan maknyus. Bukan berarti bahwa bubur ayam yang dijual di food court yang sama memiliki kualitas yang sama. Pertama, food court hanya menyediakan lapak bagi mereka para penjual. Kedua, Penjual sate kambing sama sekali tidak memiliki hubungan / standar yang sama dengan penjual bubur ayam. Jadi ketika keluarga anda bertanya di mana bubur ayam terbaik di kota anda, bukan berarti anda mengatakan “pasti di food court Melati Indah” hanya karena anda suka dengan penjual lain yang menjual sate kambing.

Jadi, tatkala fakultas ekonomi di universitas Melati bagus, bukan berarti fakultas kimia di universitas Melati juga sama bagusnya. Mulailah untuk menilai secara spesifik kinerja, prestasi lulusan, dan kualitas suatu fakultas. Bukan mengukurnya dari prestige yang dimiliki oleh universitas yang menampungnya.

Sama halnya ketika anda ingin belajar ilmu bisnis. Dari pada anda masuk universitas Melati hanya karena kampusnya mentereng, tetapi fakultas bisnisnya masih belum tertata. Lebih baik anda masuk universitas swasta tetapi fakultas bisnisnya sudah well established menghasilkan lulusan-lulusan berprestasi secara real world.

Mengapa menghindari hal ini?

Anda tidak mendapatkan apa yang ada harapkan (anda bayarkan). Jika anda membeli tempe dengan harga dua ribu rupiah, tentu tidak ada masalah. Tetapi ketika anda membayar delapan ribu rupiah — setara harga sepotong ayam — tetapi malah mendapatkan sepotong tempe, tentu ini adalah sebuah masalah.

Instansi kecil yang belum well established tetapi memiliki dana besar, dapat melakukan apapun secara eksternal (bangunan, fasilitas). Tetapi segala hal internal (sdm) tentu tidak dapat dirubah dengan uang. Oleh karena itu, seringkali jika anda berada pada situasi seperti ini, anda akan:

  • Harus belajar sendiri ‘secara total’ di luar kelas, karena tenaga pengajar yang tidak mumpuni.
  • Tenaga pengajar yang seringkali ‘tidak mau untuk berkembang’, dan dengan mudah mengatakan “saya tidak tau tentang materi ini, jadi baca sendiri ya”. Lantas kemanakah biaya yang kita ‘investasikan’ untuk mereka?
  • Tenaga pengajar yang tidak memiliki ‘aura research‘, tidak tertarik dan bersemangat untuk diajak berdiskusi materi, melakukan research bersama, cenderung menganggap apa yang ia pahami benar, dan mudah menyalahkan pendapat-pendapat siswa.
  • Menjelaskan materi atau menjawab soal berdasarkan penjelasan sesama tenaga pengajar. Tidak merujuk dan mau membaca buku yang ia tulis sendiri sebagai referensi. Bayangkan saja jika dari sumber tenaga pengajar yang ia tanyakan adalah jawaban yang sudah salah.
  • Memudahkan semua proses assessment, bahkan siswa yang tak belajar pun bisa mendapat A.
  • Meluapkan semua pertanyaan ketika menguji, tetapi menjawab “saya tidak tau” atau menjawab menurut versi dia sendiri ketika ditanya di kelas.
  • Sulit untuk mengembangkan diri karena orang-orang yang di dalamnya didapatkan dari filterasi yang mudah.

Tentu di tempat semacam ini juga terdapat tenaga pengajar dengan idelisme yang tinggi dan ingin membawa perubahan besar. Mengembangkan dirinya, dan berusaha memberikan yang terbaik semaksimal mungkin. Tetapi jumlah mereka tidak banyak.

- - -

Poin-poin di atas tentu bisa saja terjadi meskipun pada instansi yang ‘baik’, tetapi probabilitas maupun volume nya akan sangat kecil. Untuk menghindari kejadian ini, sebaiknya teman-teman memilih instansi yang ‘baik’. Bacalah Cara Memilih Instansi Terbaik.

Comments

Bagaimana pendapat anda? Bagikan di kolom di bawah ini.


Terbit

Kategori

CS, Bahasa