Cara ini dapat digunakan untuk banyak hal lain diantaranya:

  • Memilih PTN terbaik
  • Memilih kantor/perusahaan terbaik

Kata instansi digunakan untuk menekankan bahwa cara ini tidak terbatas hanya pada pencarian kantor ataupun PTN.

Akreditasi Bukanlah Segalanya

Tatkala melihat sebuah instansi, jangan semerta-merta menggunakan nilai akreditasi sebagai titik acuan. Nilai-nilai tersebut seringkali tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Instansi dapat mempersiapkan semuanya untuk dinilai dan kembali pada keadaan ‘biasanya’ setelah proses penilaian selesai.

Filterasi

Poin pertama adalah filterasi. Ketika ingin membandingkan kualitas antar instansi maupun ingin menilai seberapa baik sebuah instansi, maka lihatlah proses filterasinya (rekrutmennya).

Instansi yang baik memilih kandidat secara serius, tertata, dan memiliki standar. Sebaliknya, instansi yang lain tidak memiliki standar dan menerima kandidat bagaimanapun kualitas kandidat tersebut. Proses rekrutmen yang tidak tertata dan berantakan sudah cukup untuk menjadi sinyal negatif. Instansi yang baik tidak khawatir berinvestasi besar-besaran untuk menemukan kandidat yang baik, dan mereka sangat menghormati kandidatnya.

Contoh kasus:

Jika kita ingin mengetahui apakah kualitas jurusan kimia di universitas Anggrek lebih baik dari pada jurusan kimia di universitas Melati. Maka lihatlah proses penerimaan siswanya. Jika Budi yang tanpa bersungguh-sungguh pun bisa diterima di universitas Anggrek, maka besar kemungkinan siswa di dalam universitas Anggrek kapabilitasnya tidak jauh dari kapabilitas Budi.

Hal ini berlaku juga untuk membandingkan antar kantor, persatuan sepak bola, dan lainnya. Seringkali instansi terbaik melakukan filterasi yang sangat ketat sehingga yang di dalamnya tidak tertatih-tatih untuk mengikuti kurikulum yang ada. The best, only hire the best.

Assessment / Evaluasi

Poin terpenting berikutnya adalah bagaimana suatu instansi mengevaluasi orang-orang di dalamnya.

Contoh kasus:

Untuk membandingkan baik tidaknya jurusan bisnis di universitas Anggrek dengan universitas Melati. Maka datanglah ketika mereka mengadakan ujian harian/ujian semester. Ambil sampel soal dari kedua universitas dan bandingkanlah. Setiap universitas tau siapa yang mereka terima (ketika proses filterasi) dan setinggi apa kalibernya. Mereka akan menentukan soal yang tengah-tengah. Terlalu mudah maka akan dapat A semua, terlalu sulit maka akan dapat E semua. Oleh karena itu, dari kedua sampel soal tersebut, kita dapat melihat universitas mana yang lebih berkualitas.

Atmosfer

Poin selanjutnya adalah atmosfer. Hal ini mencerminkan segala yang terjadi di dalam sebuah instansi.

Contoh kasus:

Jika ada ingin melihat seberapa berat (baca: baik) sebuah universitas mengajar siswanya, membuat siswanya belajar, berdiskusi, menggali dan menggali secara mandiri. Maka datanglah ke tempat universitas tersebut berada. Lihatlah suasana di kantin, perpustakaan umum, perpustakaan jurusan, dan lihatlah tempat-tempat hiburan (kafe/mal) di sekitar kampus tersebut. Semakin banyak waktu luang yang dimiliki siswa untuk entertaiment dan tidak ada aura diskusi belajar yang aktif di kampus. Maka dapat dipastikan filterasi dan proses assessment (pada dua poin sebelumnya) mudah dilakukan.

Mengapa Memilih yang Terbaik?

Filterasi yang baik akan membuat kita menemukan orang-orang terbaik di dalam suatu instansi. Orang-orang baik tersebut memiliki karakter dan disiplin yang baik sehingga menciptakan atmosfer yang baik.

Dengan karakter dan keilmuan yang baik, kita dapat dengan mudah belajar dan berdiskusi bersama mereka cara mengimplementasikan suatu hal dengan cara yang benar. Atmosfer yang baik dapat dengan mudah membentuk karakter dan membuat kita selalu termotivasi untuk belajar dan berkembang. Kita hanya butuh mengayuh mendayung sedikit untuk ke kanan dan ke kiri. Berbeda dengan atmosfer yang buruk di mana kita harus melawan arus buruk, berusaha menjaga disiplin, berkembang dalam waktu yang bersamaan.

Tentu semua hal memiliki kekurangan. Hal yang terbaik adalah memilih yang kekurangannya paling sedikit.

Mendapatkan tempat terbaik tidaklah mudah. Kita harus berjuang sekuat tenaga, terus percaya pada mimpi-mimpi yang kita miliki. Lantas kita bergumam “saya tidak memiliki skill yang mumpuni, tetapi saya memiliki semangat yang kuat. Tolong terimalah saya”. Cara terbaik untuk membuktikan bahwa kita memiliki semangat yang kuat dalam mendalami skill tersebut adalah dengan membuktikan bahwa kita menguasai skill tersebut.

Tempat Terbaik Bukanlah Cetakan Donat

Tempat untuk menempa manusia berbeda dengan alat untuk menempa barang. Hasil cetakan tempat terbaik tidak semuanya ‘baik’.

Contoh kasus:

Ada seorang siswa menjuarai lomba matematika internasional, lantas pihak sekolah mencetak banner besar dengan foto siswa tersebut dan mengklaim bahwa prestasi itu berhasil dicapai karena sang siswa bersekolah di sana. Klaim seperti ini tidak sepenuhnya tepat, karena menghilangkan aspek-aspek proses metamorfosa siswa itu sendiri, dari kecil dididik seorang ibu yang giat dan aspek-aspek lainnya. Presentase kontribusi lingkungan maupun guru sekolah pada sang anak tentu ada, tetapi tidak sebanyak porsi usaha dan proses anak itu sendiri. Jika itu adalah 100% murni pencapaian sekolah, seharusnya semua murid di sana bisa menjawab soal pada tingkatan yang sama.

Oleh karena itu, jika kita sudah berada di tempat yang terbaik. Janganlah lantas berleha-leha dan menganggap bahwa semuanya akan berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Telah banyak kita lihat lulusan-lulusan tempat terbaik kandas di fase-fase berikutnya, dan lulusan tempat yang sekolahnya saja tidak punya plang berhasil berkarya di ranah internasional.

Maka jauhilah sifat sombong, teruslah kepakkan sayap-sayap kita, gapailah mimpi-mimpi itu. Keep Flying!.

Comments

Ada tips yang lain? Bagikan di kolom di bawah ini.


Reading Time

~4 min read

Published

Category

Life, Bahasa